Tokoh Papua Ajak Semua Elemen Jaga Kondusivitas Jelang Nataru

Papua Tengah- Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama di Papua mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi keamanan dan ketertiban agar tetap kondusif. Seruan ini dinilai penting mengingat momentum Natal dan pergantian tahun merupakan waktu yang sarat dengan nilai keagamaan, kebersamaan, serta membutuhkan suasana aman dan damai.

Tokoh masyarakat Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Derek Alom, menegaskan komitmen masyarakat Distrik Tembagapura dan Distrik Kimbeli dalam mendukung aparat keamanan menjaga stabilitas wilayah. Ia menyampaikan bahwa masyarakat ingin perayaan Natal dan Tahun Baru dapat berlangsung dengan aman tanpa adanya gangguan keamanan yang merugikan warga.

“Kita ingin merayakan Natal dan tahun baru dengan aman dan damai. Kita berkaca pada serangkaian kejadian gangguan keamanan di tahun 2017, di mana masyarakat menjadi susah dan harus mengungsi. Hal seperti itu tidak ingin terulang kembali,” ujar Derek Alom, Senin (15/12/2025).

Derek juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh ajakan atau isu yang dapat memicu gangguan keamanan. Menurutnya, stabilitas wilayah merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya aparat keamanan semata.

“Masyarakat tidak boleh mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin mengacaukan daerah ini. Kita semua ingin Natal dan tahun baru dirayakan dengan aman dan damai,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kedamaian merupakan pintu masuk bagi pembangunan dan kemajuan daerah. Oleh karena itu, dukungan aktif masyarakat terhadap aparat keamanan menjadi kunci agar Mimika, mulai dari wilayah pesisir hingga pegunungan, tetap aman.

“Kami masyarakat Mimika dari pesisir hingga gunung siap mendukung aparat menjaga keamanan. Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga Kabupaten Mimika tetap aman dan damai, termasuk wilayah pedalaman,” tambah Derek.

Seruan serupa juga disampaikan tokoh agama di Papua, Pendeta Dr. Yones Wenda. Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, pemuda, hingga aparat keamanan, untuk bersinergi menjaga kondusivitas Papua menjelang Nataru.
“Saya, Pendeta Yones Wenda selaku tokoh agama di Tanah Papua, selalu mendukung aparat keamanan dalam menjaga kondusivitas Papua menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.

Menurut Pendeta Yones, stabilitas keamanan menjadi syarat utama agar umat Kristiani dapat menjalankan ibadah Natal dengan khusyuk serta masyarakat dapat menyambut Tahun Baru dengan rasa aman dan penuh sukacita. Ia juga menyinggung perhatian pemerintah pusat terhadap Papua melalui berbagai program pembangunan.

Ia pun mengajak masyarakat Papua untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terpengaruh isu yang dapat memecah belah kebersamaan. “Mari kita bersama-sama menjaga kedamaian Papua menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru,” tutupnya.

Imbauan dari para tokoh tersebut diharapkan mampu memperkuat komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan Papua yang aman, damai, dan harmonis selama perayaan Nataru.

More From Author

Oleh: Adhitya Ramadani)* Optimisme terhadap perekonomian Indonesia pada 2026 bukan sekadar narasi, melainkan tercermin dalam capaian ekonomi yang terukur. Di tengah tekanan ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, konflik berkepanjangan, serta dinamika perdagangan internasional, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan. Kinerja tersebut menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kuartalan, ekonomi nasional tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa optimisme terhadap perekonomian nasional memiliki dasar yang nyata karena ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap solid. Kinerja tersebut semakin penting ketika ditempatkan dalam konteks perekonomian global yang masih menghadapi berbagai tantangan. Konflik geopolitik di Ukraina dan kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda, sementara perang dagang dan perubahan kebijakan perdagangan sejumlah negara turut menciptakan ketidakpastian. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen. Ketahanan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional memiliki daya adaptasi yang semakin baik terhadap perubahan lingkungan eksternal. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tetap berada pada level yang positif. Bahkan, capaian pertumbuhan sepanjang semester I 2026 sebesar 5,45 persen menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi yang baik di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut memperkuat gambaran bahwa perekonomian nasional mampu menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan ekspansi di tengah situasi global yang penuh tantangan. Salah satu bukti kuat dari ketahanan ekonomi nasional terlihat dari konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi penopang utama pertumbuhan dan mampu tumbuh di atas lima persen. Konsumsi yang terjaga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak. Perputaran konsumsi tersebut turut memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, jasa, industri, serta berbagai kegiatan ekonomi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Kekuatan permintaan domestik menjadi semakin penting karena memberikan perlindungan bagi perekonomian nasional ketika kondisi eksternal menghadapi tekanan. Ketika perdagangan global bergerak dinamis, pasar domestik tetap mampu menjadi sumber pertumbuhan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi 5,29 persen memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada faktor eksternal, tetapi juga memiliki basis domestik yang cukup kuat. Capaian tersebut juga tidak terlepas dari kebijakan yang menjaga aktivitas ekonomi sejak awal tahun. Strategi frontloading belanja negara mendorong percepatan perputaran ekonomi pada semester I 2026. Belanja pemerintah memberikan dorongan terhadap aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, dan konsumsi sehingga menciptakan efek pengganda bagi perekonomian. Stabilisasi harga energi di tengah gejolak global turut memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha. Di sisi lain, stimulus konsumsi membantu mempertahankan pengeluaran masyarakat sehingga permintaan domestik tetap bergerak. Kombinasi kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa optimisme ekonomi dibangun melalui langkah konkret yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi. Selain itu, Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Trisha Indraswari, mengatakan pertumbuhan 5,29 persen menunjukkan bahwa fondasi permintaan domestik Indonesia masih kuat. Pertumbuhan tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan China yang tumbuh 4,3 persen dan Arab Saudi sebesar 4,8 persen berdasarkan data triwulan II yang telah dirilis. Perbandingan tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan daya tahan ekonomi yang baik. Dari sisi ketenagakerjaan, perkembangan ekonomi juga memberikan gambaran positif. Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja meningkat sekitar 1,90 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya, sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus menciptakan ruang bagi peningkatan kesempatan kerja dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan produktif. Memasuki semester II 2026, momentum pertumbuhan dapat semakin diperkuat melalui peningkatan investasi swasta, khususnya pada sektor manufaktur, agroindustri, pariwisata, konstruksi, dan perumahan. Sektor-sektor tersebut memiliki potensi besar dalam meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas kesempatan kerja. Kemudahan pembiayaan, percepatan perizinan, penguatan penjaminan, dan penyederhanaan regulasi dapat menjadi instrumen untuk memperbesar kontribusi dunia usaha. Dengan pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II dan 5,45 persen sepanjang semester I 2026, optimisme terhadap ekonomi Indonesia memiliki pijakan yang jelas. Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, kebijakan fiskal yang mampu menjaga aktivitas ekonomi, investasi yang terus berkembang, serta ketahanan terhadap tekanan global menjadi bukti bahwa optimisme tersebut hadir dalam bentuk capaian nyata. Berlanjutnya tahun 2026, momentum pertumbuhan perlu terus dijaga agar semakin menghasilkan manfaat luas. Pertumbuhan ekonomi bukan hanya perlu dipertahankan, tetapi juga terus diarahkan untuk memperkuat produktivitas, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan aktivitas usaha, dan mendorong kesejahteraan masyarakat. Dengan fondasi yang telah terbukti melalui berbagai indikator ekonomi, optimisme terhadap masa depan perekonomian Indonesia memiliki alasan kuat untuk terus dipelihara. )* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta

Merawat Kondusivitas Papua Menyambut Natal dan Tahun Baru

Menjaga Damai Papua Menjelang Natal dan Tahun Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

Recent Comments

Categories