
JAKARTA – Pemerintah memperkuat layanan transportasi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang dan selama bulan Ramadan hingga Lebaran 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi terpadu untuk memastikan kelancaran mobilitas masyarakat sekaligus menjaga daya beli di tengah meningkatnya aktivitas konsumsi.
Tenaga Pakar Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Fithra Faisal Hastiadi, menjelaskan bahwa kebijakan stimulus di sektor transportasi telah terbukti memberikan dampak ekonomi yang signifikan. “Pada beberapa kuartal di 2025, ketika pemerintah memberikan stimulus di sektor transportasi, hasilnya sangat baik. Saat Lebaran tahun lalu, paket kebijakan yang fokus pada transportasi serta pariwisata dan ekonomi kreatif berhasil mendorong pertumbuhan sektor-sektor terkait,” ujarnya.
Data kuartal kedua 2025 menunjukkan sektor yang berkaitan dengan transportasi mengalami kenaikan yang kuat. Sektor akomodasi dan penyediaan makan minum tumbuh sekitar 8 persen, sementara sektor jasa bahkan menembus 10 hingga 11 persen. Hal ini menunjukkan bahwa transportasi memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang luas terhadap penciptaan ruang-ruang ekonomi baru.
Meski nilai stimulus transportasi relatif lebih kecil dibandingkan belanja bantuan sosial, dampaknya terhadap pertumbuhan dinilai strategis. Pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara perlindungan sosial dan penciptaan peluang ekonomi, termasuk bagi kelompok kelas menengah yang tidak menerima bansos namun terdampak tekanan ekonomi.
Menurut Fithra, kebijakan subsidi transportasi saat mudik berdampak langsung pada disposable income masyarakat. “Ketika biaya transportasi lebih ringan, sisa pendapatan dapat dibelanjakan di daerah. Ini menciptakan surplus konsumen dan menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya. Perputaran uang selama periode mudik di Pulau Jawa saja diperkirakan mencapai Rp300–Rp350 triliun.
Di sisi lain, stabilitas harga sembako juga menjadi prioritas. Ramadan tahun ini bertepatan dengan masa panen raya sehingga pasokan relatif terjaga. Pemerintah tetap memperhatikan aspek distribusi dan logistik agar keseimbangan harga tercapai. “Kita tidak ingin harga ditekan berlebihan sehingga petani dan pedagang tidak menikmati hasil yang baik. Yang penting daya beli masyarakat meningkat, sehingga konsumen dan produsen sama-sama diuntungkan,” tegas Fithra.
Kinerja ekonomi nasional turut memberikan ruang fiskal bagi pemerintah. Pada kuartal keempat 2025, ekonomi tumbuh 5,39 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi. Tren ini diproyeksikan berlanjut dengan target pertumbuhan mendekati 6 persen pada 2026.
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan jangka pendek seperti stimulus akan terus diselaraskan dengan agenda jangka menengah dan panjang, termasuk penguatan industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja formal. Dengan pendekatan pembangunan inklusif, pemerintah berkomitmen memastikan pertumbuhan ekonomi selama Ramadan tidak hanya meningkatkan aktivitas konsumsi, tetapi juga memperluas kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.