
Oleh : Rivka Mayangsari*)
Ketahanan pangan semakin menjadi isu strategis di tengah meningkatnya tantangan global yang memengaruhi rantai pasok pangan dunia. Berbagai lembaga internasional telah memperingatkan potensi krisis pangan akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, serta meningkatnya jumlah penduduk dunia. Dalam situasi tersebut, Indonesia memilih mengambil langkah progresif dengan memperkuat swasembada pangan sebagai fondasi utama kedaulatan bangsa sekaligus pilar penting menuju kemandirian ekonomi nasional.
Presiden Prabowo Subianto, menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama kedaulatan bangsa yang harus terus diperkuat melalui kerja sama seluruh elemen masyarakat. Pemerintah berkomitmen menjaga dan memperkuat swasembada pangan nasional secara berkelanjutan dengan melibatkan petani, nelayan, penyuluh, akademisi, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Komitmen tersebut disampaikan di hadapan lebih dari 100 ribu petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku usaha pertanian sebagai bentuk penegasan bahwa sektor pangan menjadi prioritas utama pembangunan nasional. Menurut Presiden, bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai gejolak global.
Dalam pandangan Presiden, persoalan pangan merupakan isu paling mendasar bagi setiap negara. Ketika dunia menghadapi ancaman kelangkaan pangan, kemampuan suatu bangsa untuk menjamin kebutuhan rakyatnya menjadi ukuran penting ketahanan nasional. Oleh karena itu, penguatan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial dan keamanan negara.
Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia kini berada pada posisi yang semakin kuat dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Bahkan, Indonesia mulai menunjukkan kapasitas untuk berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pangan dunia di tengah meningkatnya ancaman krisis global. Perkembangan ini menjadi indikator bahwa berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah mulai menghasilkan dampak nyata.
Menurut Presiden, berbagai capaian yang dilaporkan Menteri Pertanian menunjukkan bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat menuju swasembada pangan yang kokoh. Tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia bahkan mulai membantu negara lain melalui surplus produksi dan pasokan sarana produksi pertanian.
Salah satu indikator keberhasilan tersebut terlihat dari meningkatnya perhatian negara lain terhadap kapasitas produksi Indonesia. Presiden mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Australia bahkan menghubunginya secara langsung terkait surplus pupuk yang dimiliki Indonesia. Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar, tetapi mulai tampil sebagai pemain penting dalam sektor pangan dan pertanian regional.
Meski demikian, Presiden mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut tidak boleh membuat pemerintah lengah. Seluruh kebijakan pertanian harus tetap berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani sebagai aktor utama dalam pembangunan sektor pangan. Ketahanan pangan yang kuat harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup para petani dan nelayan.
Dukungan terhadap arah kebijakan tersebut juga disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Mewakili petani Indonesia, ia menyampaikan apresiasi atas berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani.
Salah satu kebijakan yang mendapat perhatian besar adalah penurunan harga pupuk hingga 20 persen. Kebijakan ini dinilai sangat membantu petani dalam menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan keuntungan usaha tani. Selain itu, pemerintah juga melakukan deregulasi dan penyederhanaan distribusi pupuk sehingga akses terhadap sarana produksi menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien.
Tidak berhenti pada aspek produksi, pemerintah juga mempercepat program hilirisasi komoditas strategis seperti kakao, mete, dan tebu di lahan seluas 870 ribu hektare. Program ini diproyeksikan mampu menciptakan sedikitnya tiga juta lapangan kerja hingga tahun 2029. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sektor pangan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperluas nilai tambah ekonomi di dalam negeri.
Di sisi lain, peran lembaga pangan nasional juga semakin diperkuat. Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa BULOG terus menjalankan berbagai program strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
Program tersebut mencakup penyerapan hasil panen petani, pengelolaan cadangan pangan pemerintah, hingga pelaksanaan stabilisasi pasokan dan harga pangan. Melalui langkah ini, BULOG tidak hanya berperan menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga memastikan harga tetap stabil sehingga menguntungkan petani sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
Penguatan swasembada pangan juga mendapat dukungan dari kalangan petani dan nelayan. Ketua KTNA Nasional, Mohammad Yadi Sofyan Noor, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian dan perikanan.
Keberhasilan membangun swasembada pangan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan menciptakan ekosistem pertanian yang modern, efisien, dan berkelanjutan. Karena itu, pemerintah terus mendorong inovasi teknologi, penguatan infrastruktur pertanian, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pangan.
Pada akhirnya, swasembada pangan berkelanjutan merupakan jalan besar menuju kemandirian Indonesia. Ketika petani semakin sejahtera, produksi meningkat, distribusi berjalan lancar, dan cadangan pangan nasional terjaga, maka Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan global. Dengan fondasi tersebut, cita-cita mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan sejahtera semakin berada dalam jangkauan.
*) Pemerhati kebijakan pemerintah