Trisula Prabowo: Strategi Pengentasan Kemiskinan Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh: Adnan Ramdani )*

Kemiskinan masih menjadi permasalahan utama di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun angka kemiskinan menunjukkan tren penurunan dalam beberapa dekade terakhir, ketimpangan ekonomi serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja masih menjadi kendala yang signifikan.

Menyikapi permasalahan tersebut, pemerintahan Presiden Prabowo baru-baru ini meluncurkan tiga inisiatif strategis dalam rangka pengentasan kemiskinan, kolaborasi yang kemudian dikenal sebagai Trisula. Ketiga program tersebut yaitu Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis di Sekolah, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, yang dirancang untuk menangani akar masalah kemiskinan melalui tiga pilar utama: pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menuturkan ketiga program itu merupakan ”trisula” yang menjadi senjata pemerintah untuk pemerataan pembangunan dan penanggulangan kemiskinan. Ketiganya merupakan program-program yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya kelompok masyarakat miskin ekstrem.

Program Sekolah Rakyat, menurut rencana, akan diluncurkan pada akhir Juli. Pada tahap pertama, ada 100 sekolah rakyat yang bakal segera beroperasi yang khusus menerima siswa dari anak-anak keluarga miskin ekstrem.

Selain mendapatkan pendidikan sesuai kurikulum pendidikan nasional, siswa di sekolah rakyat juga akan tinggal di asrama. Siswa-siswa tersebut diberikan fasilitas makan hingga tempat tinggal yang layak. Dengan demikian, orangtua tidak perlu memikirkan biaya-biaya lain yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan sekolah anaknya.

Selanjutnya, pemerintah akan memperluas cakupan program Cek Kesehatan Gratis hingga ke sekolah. Program ini akan menyasar siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Para siswa akan mendapatkan beberapa jenis pemeriksaan, antara lain pemeriksaan gigi, telinga, tekanan darah, skrining tuberkulosis, dan termasuk pemeriksaan kejiwaan.

Melalui program ini, Presiden Prabowo berharap semakin banyak masyarakat yang memeriksakan kondisi kesehatan karena tidak hanya dapat dilakukan di puskesmas. Para siswa pun nanti dapat mengetahui kondisi kesehatan sehingga mampu melakukan tindakan-tindakan antitipasi sejak dini.

Program ketiga yang diluncurkan oleh pemerintah adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina, Ariyo DP Irhamna, mengatakan, program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih merupakan langkah besar yang mengafirmasi peran ekonomi rakyat berbasis kolektivitas, gotong royong, dan kemandirian usaha lokal. Langkah ini harus dilihat sebagai titik balik dari pendekatan kebijakan yang selama ini cenderung meminggirkan koperasi dalam arsitektur ekonomi nasional. Lebih lanjut, Ariyo menilai, setelah sekian lama terpinggirkan, koperasi akhirnya kembali mendapat ruang dalam rancangan pembangunan ekonomi bangsa.

Namun, ia mengingatkan, pendirian koperasi harus diikuti dengan dukungan pendampingan dan strategi operasional yang tepat. Sebab, persiapan operasionalisasi 80.000 koperasi dilakukan hanya dalam waktu kurang dari setahun. Apalagi, koperasi-koperasi akan mendapatkan dukungan pembiayaan hingga Rp 3 miliar.

Senada, Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Noudhy Valdryno, menjelaskan bahwa ketiga program Trisula Presiden Prabowo dirancang untuk menjawab kebutuhan konkret masyarakat, terutama kelompok miskin ekstrem.

Inisiatif strategis ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Peluncuran ketiga program ini mencerminkan keinginan pemerintah untuk menjadikan peringatan HUT ke-80 RI lebih dari sekadar perayaan, tetapi sebagai tonggak nyata mewujudkan kemerdekaan ekonomi dan sosial untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Trisula Prabowo bukan hanya sekadar janji pada masa kampanye, tetapi mencerminkan langkah awal dari kebijakan yang berpihak pada kelompok yang paling rentan. Namun, keberhasilan program-program ini tidak hanya diukur dari peluncurannya, tetapi juga dari konsistensi dalam pelaksanaan, pengawasan anggaran, dan kemampuan untuk menjangkau masyarakat secara merata.

Terdapat tantangan yang menghinggapi, seperti birokrasi yang lambat, kemungkinan tumpang tindih dalam kebijakan daerah, serta risiko korupsi di level pelaksana. Di sinilah peran partisipasi publik, masyarakat sipil, serta transparansi data dan pelaporan dari pemerintah menjadi sangat penting.

Trisula Prabowo dapat menjadi titik balik dalam pembangunan yang lebih menguntungkan bagi masyarakat, asalkan dilaksanakan dengan prinsip keberlanjutan dan akuntabilitas. Harapan telah diciptakan, sekarang tinggal bagaimana cara menjaga agar api harapan itu tetap menyala dan benar-benar menerangi jalan keluar dari kemiskinan yang sudah lama menjadi warisan.

Ketiga program ini menjadi bagian dari visi besar Prabowo Subianto untuk membangun Indonesia dari pinggiran, memperkuat fondasi sosial masyarakat, dan menghapuskan kesenjangan ekonomi secara bertahap namun terarah. Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah, legislator, akademisi, dan rakyat, Trisula Prabowo bukan sekadar slogan politik, melainkan potensi transformasional menuju Indonesia yang lebih adil, mandiri, dan sejahtera.

)* Penulis adalah Pengamat Ekonomi

More From Author

Oleh: Adhitya Ramadani)* Optimisme terhadap perekonomian Indonesia pada 2026 bukan sekadar narasi, melainkan tercermin dalam capaian ekonomi yang terukur. Di tengah tekanan ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, konflik berkepanjangan, serta dinamika perdagangan internasional, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan. Kinerja tersebut menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kuartalan, ekonomi nasional tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa optimisme terhadap perekonomian nasional memiliki dasar yang nyata karena ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap solid. Kinerja tersebut semakin penting ketika ditempatkan dalam konteks perekonomian global yang masih menghadapi berbagai tantangan. Konflik geopolitik di Ukraina dan kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda, sementara perang dagang dan perubahan kebijakan perdagangan sejumlah negara turut menciptakan ketidakpastian. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen. Ketahanan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional memiliki daya adaptasi yang semakin baik terhadap perubahan lingkungan eksternal. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tetap berada pada level yang positif. Bahkan, capaian pertumbuhan sepanjang semester I 2026 sebesar 5,45 persen menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi yang baik di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut memperkuat gambaran bahwa perekonomian nasional mampu menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan ekspansi di tengah situasi global yang penuh tantangan. Salah satu bukti kuat dari ketahanan ekonomi nasional terlihat dari konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi penopang utama pertumbuhan dan mampu tumbuh di atas lima persen. Konsumsi yang terjaga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak. Perputaran konsumsi tersebut turut memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, jasa, industri, serta berbagai kegiatan ekonomi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Kekuatan permintaan domestik menjadi semakin penting karena memberikan perlindungan bagi perekonomian nasional ketika kondisi eksternal menghadapi tekanan. Ketika perdagangan global bergerak dinamis, pasar domestik tetap mampu menjadi sumber pertumbuhan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi 5,29 persen memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada faktor eksternal, tetapi juga memiliki basis domestik yang cukup kuat. Capaian tersebut juga tidak terlepas dari kebijakan yang menjaga aktivitas ekonomi sejak awal tahun. Strategi frontloading belanja negara mendorong percepatan perputaran ekonomi pada semester I 2026. Belanja pemerintah memberikan dorongan terhadap aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, dan konsumsi sehingga menciptakan efek pengganda bagi perekonomian. Stabilisasi harga energi di tengah gejolak global turut memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha. Di sisi lain, stimulus konsumsi membantu mempertahankan pengeluaran masyarakat sehingga permintaan domestik tetap bergerak. Kombinasi kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa optimisme ekonomi dibangun melalui langkah konkret yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi. Selain itu, Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Trisha Indraswari, mengatakan pertumbuhan 5,29 persen menunjukkan bahwa fondasi permintaan domestik Indonesia masih kuat. Pertumbuhan tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan China yang tumbuh 4,3 persen dan Arab Saudi sebesar 4,8 persen berdasarkan data triwulan II yang telah dirilis. Perbandingan tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan daya tahan ekonomi yang baik. Dari sisi ketenagakerjaan, perkembangan ekonomi juga memberikan gambaran positif. Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja meningkat sekitar 1,90 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya, sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus menciptakan ruang bagi peningkatan kesempatan kerja dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan produktif. Memasuki semester II 2026, momentum pertumbuhan dapat semakin diperkuat melalui peningkatan investasi swasta, khususnya pada sektor manufaktur, agroindustri, pariwisata, konstruksi, dan perumahan. Sektor-sektor tersebut memiliki potensi besar dalam meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas kesempatan kerja. Kemudahan pembiayaan, percepatan perizinan, penguatan penjaminan, dan penyederhanaan regulasi dapat menjadi instrumen untuk memperbesar kontribusi dunia usaha. Dengan pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II dan 5,45 persen sepanjang semester I 2026, optimisme terhadap ekonomi Indonesia memiliki pijakan yang jelas. Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, kebijakan fiskal yang mampu menjaga aktivitas ekonomi, investasi yang terus berkembang, serta ketahanan terhadap tekanan global menjadi bukti bahwa optimisme tersebut hadir dalam bentuk capaian nyata. Berlanjutnya tahun 2026, momentum pertumbuhan perlu terus dijaga agar semakin menghasilkan manfaat luas. Pertumbuhan ekonomi bukan hanya perlu dipertahankan, tetapi juga terus diarahkan untuk memperkuat produktivitas, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan aktivitas usaha, dan mendorong kesejahteraan masyarakat. Dengan fondasi yang telah terbukti melalui berbagai indikator ekonomi, optimisme terhadap masa depan perekonomian Indonesia memiliki alasan kuat untuk terus dipelihara. )* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta

Negosiasi Berani Presiden Prabowo, Tarif Impor AS Turun dari 32 ke 19 Persen

Pemerintah Targetkan 100 Sekolah Rakyat Selesai Bulan Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

Recent Comments

Categories