Presiden Prabowo dan Ormas Agama Teguhkan Seruan Damai Pasca Demo

Oleh : Muhammad Zaki)*

 

Bangsa ini kembali diuji oleh sebuah tragedi yang menyentuh hati nurani. Meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online dalam aksi unjuk rasa di Jakarta, menjadi peringatan bagi kita semua bahwa demonstrasi yang tidak terkendali bisa menimbulkan korban jiwa. Peristiwa tersebut tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memunculkan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga persatuan dan ketenangan.

 

Dalam suasana duka dan keprihatinan itu, Presiden Prabowo Subianto mengundang 16 organisasi keagamaan ke kediamannya di Hambalang, Bogor. Pertemuan yang berlangsung hingga tiga jam itu menghadirkan para ketua umum, sekjen, sejumlah menteri, hingga Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Diskusi berjalan penuh keterbukaan, membahas persoalan bangsa yang belakangan ini mencuat ke permukaan. Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, menuturkan bahwa dialog yang dilakukan bukan sekadar formalitas, melainkan percakapan hati ke hati untuk memahami secara utuh persoalan bangsa.

 

Dalam pertemuan itu, para tokoh agama menyepakati perlunya kebersamaan dalam mengatasi keadaan yang sedang dihadapi. Mereka menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus didampingi kekuatan moral dari para pemimpin umat. Prabowo pun menyambut baik semangat kebersamaan tersebut. Para tokoh sepakat untuk mengajak masyarakat tetap tenang, tidak terprovokasi, dan lebih mengedepankan penyelesaian damai dibanding aksi jalanan yang berpotensi menimbulkan kerugian.

 

Gus Yahya menekankan bahwa NU dan ormas lain akan selalu berada di samping pemerintah untuk menghadapi tantangan bangsa. Menurutnya, dengan kepemimpinan Presiden Prabowo yang ditopang dukungan para pemuka agama, bangsa ini memiliki modal besar untuk keluar dari masa-masa sulit. Ia juga menyampaikan bahwa pertemuan lanjutan akan digelar di Istana Negara. Pertemuan tersebut diharapkan melahirkan kesepakatan bersama sebagai wujud tekad antara pemerintah dan ormas keagamaan dalam menjaga persatuan nasional.

 

Nada yang sama juga disampaikan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar. Ia menyatakan duka cita yang mendalam atas wafatnya Affan dan mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Namun, lebih dari itu, ia mengingatkan seluruh pihak untuk menahan diri. Menurutnya, menyampaikan aspirasi adalah hak konstitusional warga negara, tetapi hak tersebut tidak boleh dijalankan dengan cara-cara yang mengundang benturan. Aparat keamanan diminta lebih sabar, mengedepankan dialog, dan tidak mudah terpancing dalam menghadapi massa.

 

Rais Aam juga menegaskan bahwa perbedaan pendapat seharusnya disalurkan dengan cara yang damai dan bermartabat. Ia meminta warga NU di seluruh tingkatan untuk berperan sebagai peneduh di tengah masyarakat. Seruan ini menjadi penting, karena NU memiliki basis jamaah yang sangat luas dan berpengaruh dalam membentuk suasana kebatinan umat.

 

Sementara itu, Muhammadiyah turut menyampaikan duka cita atas meninggalnya Affan. Dalam pernyataan resminya, Muhammadiyah menegaskan bahwa insiden tersebut harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Mereka mengingatkan agar seluruh elemen bangsa mengutamakan kepentingan nasional dan menghentikan kekerasan yang hanya akan memperdalam luka sosial.

 

Muhammadiyah juga menyoroti pentingnya sensitivitas elite politik terhadap aspirasi publik. Dalam pandangan mereka, masyarakat membutuhkan keteladanan dari para pemimpin, bukan justru sikap yang menyinggung hati rakyat. Mereka mendukung langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang berkomitmen untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut secara adil. Dukungan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa penegakan hukum harus berjalan transparan demi memulihkan kepercayaan publik.

 

Selain itu, Muhammadiyah mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar bebas di media sosial. Klarifikasi terhadap pihak berwenang dan tokoh panutan menjadi jalan terbaik untuk mencegah hoaks yang berpotensi memicu provokasi.

 

Seruan damai yang datang dari NU dan Muhammadiyah ini mencerminkan wajah asli Islam Indonesia yang mengutamakan persatuan dan kemaslahatan bangsa. Suara mereka tidak hanya mewakili organisasi, tetapi juga aspirasi jutaan umat yang mendambakan kedamaian. Ketika dua ormas terbesar di Indonesia berdiri bersama pemerintah menyerukan ketenangan, sejatinya bangsa ini sedang menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi.

 

Pesan penting dari seluruh pertemuan dan pernyataan tersebut adalah bahwa bangsa ini tidak boleh terjebak pada lingkaran kekerasan. Demonstrasi yang berubah anarkis tidak pernah melahirkan solusi, justru menambah masalah. Demokrasi menyediakan ruang konstitusional untuk menyampaikan aspirasi, dan ruang itu harus dimanfaatkan dengan cara yang santun dan bermartabat.

 

Pemerintah melalui Presiden Prabowo telah memberikan teladan dengan membuka ruang dialog yang luas bersama ormas keagamaan. Langkah ini menunjukkan bahwa negara tidak ingin berdiri di menara gading, tetapi justru merangkul kekuatan moral bangsa untuk bersama-sama menjaga ketenangan. Kehadiran tokoh agama di sisi pemerintah memberikan legitimasi moral sekaligus energi persatuan.

 

Kini, masyarakat memiliki peran penting untuk mendukung seruan perdamaian ini. Aparat perlu bekerja profesional dan menahan diri, masyarakat perlu menjaga ketertiban serta tidak mudah terprovokasi, sementara elit politik wajib menunjukkan teladan yang menyejukkan. Hanya dengan kolaborasi seperti ini, bangsa dapat keluar dari bayang-bayang perpecahan.

 

Tragedi yang merenggut nyawa Affan Kurniawan harus menjadi momentum refleksi nasional. Kita semua dituntut untuk memilih jalan persatuan, menolak kekerasan, dan mengedepankan dialog. Indonesia telah berkali-kali membuktikan bahwa persatuan selalu menjadi kunci melewati krisis, baik dalam konflik sosial, krisis ekonomi, hingga pandemi.

 

Seruan damai dari NU, Muhammadiyah, dan dukungan penuh Presiden Prabowo Subianto adalah panggilan moral agar bangsa ini kembali tenang. Saatnya masyarakat menyudahi aksi jalanan yang berpotensi menimbulkan korban baru. Yang lebih dibutuhkan sekarang adalah ketenangan, persaudaraan, dan tekad bersama membangun Indonesia ke depan.

 

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

More From Author

Presiden Prabowo dan Ormas Keagamaan Sepakat Redam Ketegangan Pasca Demo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *