Danantara Jalin Kerjasama dengan Mitra Luar Negeri Langkah Strategis Tingkatkan Tata Kelola

Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) terus memperluas jaringan kemitraan global dengan menggandeng sejumlah sovereign wealth fund (SWF) internasional. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat tata kelola investasi nasional agar setara dengan standar global.

Hingga kini Danantara tercatat menjalin kerja sama dengan tiga mitra besar, yakni Qatar Investment Authority (QIA), Future Fund Australia, dan China Investment Corporation (CIC). Kerja sama tersebut dinilai strategis untuk mendukung transformasi kelembagaan dan pengelolaan aset yang lebih profesional.

Managing Director Global Relations and Governance Danantara, Mohamad Al-Arief menegaskan, kerja sama ini bukan sekadar transaksi keuangan, tetapi bagian dari visi jangka panjang untuk membangun tata kelola yang lebih baik.

“Kami belajar dan bermitra langsung dari para pengelola aset terbaik dunia dan men-jadikannya bagian dari transformasi kelembagaan jangka panjang,” kata Mohamad Al-Arief.

Kesepakatan pertama ditandatangani Danantara dengan QIA pada 15 April lalu. Nilai kerja sama mencapai US$4 miliar atau setara Rp65 triliun (kurs Rp16.250 per dolar AS). Dana tersebut difokuskan pada sektor hilirisasi industri, energi terbarukan, dan layanan kesehatan.

Kemitraan kedua dilanjutkan pada 16 Mei melalui kerja sama dengan Future Fund Aus-tralia, SWF milik Pemerintah Australia dengan total aset lebih dari 300 miliar dolar Aus-tralia. Penandatanganan kerja sama ini dilakukan di sela-sela Indonesia-Australia Annual Leaders’ Meeting di Jakarta.

Langkah ketiga diwujudkan pada 25 Mei, ketika Danantara menggandeng China Invest-ment Corporation (CIC) untuk menjajaki pembentukan platform investasi ASEAN-Tiongkok. Dana ini akan difokuskan pada sektor manufaktur, teknologi, kesehatan, dan barang konsumsi dengan prinsip imbal hasil optimal serta dampak pembangunan yang terukur.

“Kolaborasi strategis ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menarik sebagai tujuan investasi, tetapi juga telah berkembang menjadi mitra pengelola investasi yang dapat dipercaya di panggung global,” ujar Arief.

Selain menjalin kerja sama internasional, Danantara juga tengah mempercepat re-strukturisasi aset dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Target investasi hingga 2025 ditetapkan mencapai US$5 miliar, yang akan difokuskan pada sektor strategis seperti hilirisasi mineral, energi terbarukan, digital, kesehatan, pangan, dan manufaktur.

Sejalan dengan target tersebut, Danantara telah mengamankan pendanaan awal senilai US$20 miliar untuk mendukung lebih dari 20 proyek prioritas. Perseroan juga menar-getkan dividen tahunan sebesar US$8 miliar dari portofolio BUMN yang dikelola.

Langkah ekspansi ini mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menem-patkan BUMN sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk melalui konsoli-dasi 889 entitas BUMN agar lebih efisien dan berdaya saing.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan pentingnya prinsip akuntabilitas dalam setiap langkah investasi Danantara. Ia meminta agar BPI Danantara tetap memprioritaskan kepentingan publik dan pembangunan jangka panjang.

“Dengan komitmen dan tata kelola yang baik, pertemuan ini menjadi langkah penting menuju pengelolaan keuangan negara yang lebih akuntabel dan pro-investasi,” kata Sri Mulyani Indrawati.

Melalui langkah strategis ini, Danantara diharapkan semakin memperkuat posisi Indone-sia di mata investor global dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan nasional yang berkelanjutan.-

More From Author

Oleh: Adhitya Ramadani)* Optimisme terhadap perekonomian Indonesia pada 2026 bukan sekadar narasi, melainkan tercermin dalam capaian ekonomi yang terukur. Di tengah tekanan ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, konflik berkepanjangan, serta dinamika perdagangan internasional, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan. Kinerja tersebut menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kuartalan, ekonomi nasional tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa optimisme terhadap perekonomian nasional memiliki dasar yang nyata karena ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap solid. Kinerja tersebut semakin penting ketika ditempatkan dalam konteks perekonomian global yang masih menghadapi berbagai tantangan. Konflik geopolitik di Ukraina dan kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda, sementara perang dagang dan perubahan kebijakan perdagangan sejumlah negara turut menciptakan ketidakpastian. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen. Ketahanan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional memiliki daya adaptasi yang semakin baik terhadap perubahan lingkungan eksternal. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tetap berada pada level yang positif. Bahkan, capaian pertumbuhan sepanjang semester I 2026 sebesar 5,45 persen menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi yang baik di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut memperkuat gambaran bahwa perekonomian nasional mampu menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan ekspansi di tengah situasi global yang penuh tantangan. Salah satu bukti kuat dari ketahanan ekonomi nasional terlihat dari konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi penopang utama pertumbuhan dan mampu tumbuh di atas lima persen. Konsumsi yang terjaga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak. Perputaran konsumsi tersebut turut memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, jasa, industri, serta berbagai kegiatan ekonomi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Kekuatan permintaan domestik menjadi semakin penting karena memberikan perlindungan bagi perekonomian nasional ketika kondisi eksternal menghadapi tekanan. Ketika perdagangan global bergerak dinamis, pasar domestik tetap mampu menjadi sumber pertumbuhan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi 5,29 persen memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada faktor eksternal, tetapi juga memiliki basis domestik yang cukup kuat. Capaian tersebut juga tidak terlepas dari kebijakan yang menjaga aktivitas ekonomi sejak awal tahun. Strategi frontloading belanja negara mendorong percepatan perputaran ekonomi pada semester I 2026. Belanja pemerintah memberikan dorongan terhadap aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, dan konsumsi sehingga menciptakan efek pengganda bagi perekonomian. Stabilisasi harga energi di tengah gejolak global turut memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha. Di sisi lain, stimulus konsumsi membantu mempertahankan pengeluaran masyarakat sehingga permintaan domestik tetap bergerak. Kombinasi kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa optimisme ekonomi dibangun melalui langkah konkret yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi. Selain itu, Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Trisha Indraswari, mengatakan pertumbuhan 5,29 persen menunjukkan bahwa fondasi permintaan domestik Indonesia masih kuat. Pertumbuhan tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan China yang tumbuh 4,3 persen dan Arab Saudi sebesar 4,8 persen berdasarkan data triwulan II yang telah dirilis. Perbandingan tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan daya tahan ekonomi yang baik. Dari sisi ketenagakerjaan, perkembangan ekonomi juga memberikan gambaran positif. Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja meningkat sekitar 1,90 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya, sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus menciptakan ruang bagi peningkatan kesempatan kerja dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan produktif. Memasuki semester II 2026, momentum pertumbuhan dapat semakin diperkuat melalui peningkatan investasi swasta, khususnya pada sektor manufaktur, agroindustri, pariwisata, konstruksi, dan perumahan. Sektor-sektor tersebut memiliki potensi besar dalam meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas kesempatan kerja. Kemudahan pembiayaan, percepatan perizinan, penguatan penjaminan, dan penyederhanaan regulasi dapat menjadi instrumen untuk memperbesar kontribusi dunia usaha. Dengan pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II dan 5,45 persen sepanjang semester I 2026, optimisme terhadap ekonomi Indonesia memiliki pijakan yang jelas. Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, kebijakan fiskal yang mampu menjaga aktivitas ekonomi, investasi yang terus berkembang, serta ketahanan terhadap tekanan global menjadi bukti bahwa optimisme tersebut hadir dalam bentuk capaian nyata. Berlanjutnya tahun 2026, momentum pertumbuhan perlu terus dijaga agar semakin menghasilkan manfaat luas. Pertumbuhan ekonomi bukan hanya perlu dipertahankan, tetapi juga terus diarahkan untuk memperkuat produktivitas, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan aktivitas usaha, dan mendorong kesejahteraan masyarakat. Dengan fondasi yang telah terbukti melalui berbagai indikator ekonomi, optimisme terhadap masa depan perekonomian Indonesia memiliki alasan kuat untuk terus dipelihara. )* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta

Kerjasama Danantara dengan Lembaga Internasional Pendekatan Baru Transparansi Pengelolaan Aset Negara

Ketegasan Aparat Berantas OPM, Fondasi Papua yang Aman dan Damai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

Recent Comments

Categories