Kerjasama Danantara dengan Lembaga Internasional Pendekatan Baru Transparansi Pengelolaan Aset Negara

Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memperkuat posisinya sebagai pengelola aset negara yang adaptif dan transparan melalui kerja sama strategis dengan berbagai lembaga keuangan dan sovereign wealth fund (SWF) internasional. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen Danantara dalam mendorong tata kelola aset negara yang akuntabel dan setara dengan praktik global.

Pada April 2025, Danantara dan Qatar Investment Authority (QIA) resmi menandatangani kerja sama pembentukan dana bersama senilai US$ 4 miliar, dengan porsi masing-masing sebesar US$ 2 miliar. Dana ini dialokasikan untuk sektor strategis seperti hilirisasi industri, energi terbarukan, dan layanan kesehatan. Dalam pernyataannya kepada media, Managing Director Global Relations and Governance Danantara, Mohamad Al-Arief, menegaskan bahwa kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada aliran dana investasi. Ia menyebut,

“Ini bukan hanya kerja sama keuangan, tapi juga membangun institusi dan tata kelola yang setara dengan standar global.” Jelasnya.

Tak berselang lama, pada Mei 2025, Danantara menjalin kemitraan dengan Future Fund Australia, SWF milik pemerintah Australia yang mengelola aset lebih dari AUD 300 miliar.

”Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya Danantara untuk memperkuat governance dan keterlibatan dalam komunitas internasional,” jelas Al-Arief.

Ia menyatakan bahwa kemitraan dengan Future Fund sekaligus membuka akses bagi Danantara untuk menjadi anggota International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF), dan ia menyebut ini sebagai bagian dari rencana Danantara dalam menyerap praktik-praktik terbaik dari berbagai pengelola investasi global.

Sementara itu, Danantara juga mulai menjajaki kerja sama dengan China Investment Corporation (CIC), dengan rencana pembentukan platform investasi ASEAN–China yang akan fokus pada manufaktur, teknologi, kesehatan, serta barang konsumsi. Walaupun masih dalam tahap penjajakan, Al-Arief menilai kerja sama ini sebagai langkah strategis jangka panjang yang membuka peluang ekspansi lintas kawasan.

Selain menggandeng SWF, Danantara juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) pada Juli 2025. Kerja sama ini diarahkan pada pendanaan proyek-proyek energi terbarukan, pengelolaan air, dan transmisi listrik.

”Kerja sama dengan JBIC sangat penting dalam mendukung agenda transisi energi di Indonesia, sekaligus menandakan kepercayaan investor internasional terhadap kredibilitas institusi Danantara,” ungkap Al-Arief.

Sejak peluncurannya pada Februari 2025, Danantara telah mengelola komitmen pendanaan awal sebesar US$ 20 miliar untuk mendukung lebih dari 20 proyek strategis nasional. Target investasi pada semester pertama 2025 mencapai US$ 5 miliar, dengan fokus pada sektor hilirisasi mineral, digitalisasi, energi hijau, pangan, kesehatan, dan manufaktur. Tak hanya itu, Danantara juga diberi mandat untuk mengelola aset negara yang selama ini tidak produktif (idle), guna dimaksimalkan melalui mekanisme investasi.

Al-Arief menambahkan bahwa reformasi tata kelola aset negara menjadi tujuan utama sejak awal pembentukan Danantara.

“Kita ingin memastikan setiap investasi memiliki kerangka governance dan mitigasi risiko yang jelas, serta menciptakan nilai jangka panjang untuk negara,” Ungkapnya.

Dengan seluruh inisiatif dan kerja sama tersebut, Danantara memperlihatkan model pengelolaan aset negara yang berpihak pada efisiensi, akuntabilitas, dan nilai pembangunan. Kehadiran institusi ini diharapkan menjadi tonggak baru reformasi manajemen aset negara berbasis praktik global dan keterbukaan. –

More From Author

Oleh: Adhitya Ramadani)* Optimisme terhadap perekonomian Indonesia pada 2026 bukan sekadar narasi, melainkan tercermin dalam capaian ekonomi yang terukur. Di tengah tekanan ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, konflik berkepanjangan, serta dinamika perdagangan internasional, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan. Kinerja tersebut menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kuartalan, ekonomi nasional tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa optimisme terhadap perekonomian nasional memiliki dasar yang nyata karena ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap solid. Kinerja tersebut semakin penting ketika ditempatkan dalam konteks perekonomian global yang masih menghadapi berbagai tantangan. Konflik geopolitik di Ukraina dan kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda, sementara perang dagang dan perubahan kebijakan perdagangan sejumlah negara turut menciptakan ketidakpastian. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen. Ketahanan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional memiliki daya adaptasi yang semakin baik terhadap perubahan lingkungan eksternal. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tetap berada pada level yang positif. Bahkan, capaian pertumbuhan sepanjang semester I 2026 sebesar 5,45 persen menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi yang baik di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut memperkuat gambaran bahwa perekonomian nasional mampu menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan ekspansi di tengah situasi global yang penuh tantangan. Salah satu bukti kuat dari ketahanan ekonomi nasional terlihat dari konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi penopang utama pertumbuhan dan mampu tumbuh di atas lima persen. Konsumsi yang terjaga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak. Perputaran konsumsi tersebut turut memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, jasa, industri, serta berbagai kegiatan ekonomi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Kekuatan permintaan domestik menjadi semakin penting karena memberikan perlindungan bagi perekonomian nasional ketika kondisi eksternal menghadapi tekanan. Ketika perdagangan global bergerak dinamis, pasar domestik tetap mampu menjadi sumber pertumbuhan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi 5,29 persen memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada faktor eksternal, tetapi juga memiliki basis domestik yang cukup kuat. Capaian tersebut juga tidak terlepas dari kebijakan yang menjaga aktivitas ekonomi sejak awal tahun. Strategi frontloading belanja negara mendorong percepatan perputaran ekonomi pada semester I 2026. Belanja pemerintah memberikan dorongan terhadap aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, dan konsumsi sehingga menciptakan efek pengganda bagi perekonomian. Stabilisasi harga energi di tengah gejolak global turut memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha. Di sisi lain, stimulus konsumsi membantu mempertahankan pengeluaran masyarakat sehingga permintaan domestik tetap bergerak. Kombinasi kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa optimisme ekonomi dibangun melalui langkah konkret yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi. Selain itu, Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Trisha Indraswari, mengatakan pertumbuhan 5,29 persen menunjukkan bahwa fondasi permintaan domestik Indonesia masih kuat. Pertumbuhan tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan China yang tumbuh 4,3 persen dan Arab Saudi sebesar 4,8 persen berdasarkan data triwulan II yang telah dirilis. Perbandingan tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan daya tahan ekonomi yang baik. Dari sisi ketenagakerjaan, perkembangan ekonomi juga memberikan gambaran positif. Pada Februari 2026, jumlah penduduk bekerja meningkat sekitar 1,90 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya, sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus menciptakan ruang bagi peningkatan kesempatan kerja dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan produktif. Memasuki semester II 2026, momentum pertumbuhan dapat semakin diperkuat melalui peningkatan investasi swasta, khususnya pada sektor manufaktur, agroindustri, pariwisata, konstruksi, dan perumahan. Sektor-sektor tersebut memiliki potensi besar dalam meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas kesempatan kerja. Kemudahan pembiayaan, percepatan perizinan, penguatan penjaminan, dan penyederhanaan regulasi dapat menjadi instrumen untuk memperbesar kontribusi dunia usaha. Dengan pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II dan 5,45 persen sepanjang semester I 2026, optimisme terhadap ekonomi Indonesia memiliki pijakan yang jelas. Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, kebijakan fiskal yang mampu menjaga aktivitas ekonomi, investasi yang terus berkembang, serta ketahanan terhadap tekanan global menjadi bukti bahwa optimisme tersebut hadir dalam bentuk capaian nyata. Berlanjutnya tahun 2026, momentum pertumbuhan perlu terus dijaga agar semakin menghasilkan manfaat luas. Pertumbuhan ekonomi bukan hanya perlu dipertahankan, tetapi juga terus diarahkan untuk memperkuat produktivitas, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan aktivitas usaha, dan mendorong kesejahteraan masyarakat. Dengan fondasi yang telah terbukti melalui berbagai indikator ekonomi, optimisme terhadap masa depan perekonomian Indonesia memiliki alasan kuat untuk terus dipelihara. )* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta

Koperasi Merah Putih Upaya Presiden Prabowo Berdayakan Ekonomi Masyarakat Desa

Danantara Jalin Kerjasama dengan Mitra Luar Negeri Langkah Strategis Tingkatkan Tata Kelola

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

Recent Comments

Categories