Oleh : Naya Santika
Target investasi pada 2027 yang disiapkan pemerintah menjadi sinyal penting bahwapembangunan ekonomi Indonesia diarahkan pada fondasi yang lebih kuat, produktif, dan mandiri. Di tengah kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan, investasi tidak lagi dapatdipandang semata sebagai angka dalam dokumen perencanaan, melainkan sebagai instrumenstrategis untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, meningkatkanproduktivitas, dan memperluas kapasitas ekonomi dalam jangka panjang.
Pemerintah menempatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen sebagai salah satu sasarandalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2027. Untukmewujudkannya, investasi dipandang memiliki peran yang sangat penting. Pembahasan antarapemerintah, DPR, Bank Indonesia, Bappenas, dan Danantara menunjukkan adanya upaya untukmenyelaraskan kebijakan fiskal, moneter, perencanaan pembangunan, serta strategi investasiagar bergerak dalam arah yang sama.
Dalam konteks tersebut, target investasi 2027 memiliki makna yang lebih besar daripada sekadarmengejar peningkatan realisasi penanaman modal. Investasi harus diarahkan pada sektor-sektoryang mampu memberikan nilai tambah tinggi bagi perekonomian nasional. Hilirisasi industri, infrastruktur, energi, pangan, teknologi, manufaktur, serta sektor-sektor strategis lainnya perlumendapatkan perhatian karena memiliki kemampuan menciptakan efek berganda terhadapkegiatan ekonomi.
Kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara juga memberikandimensi baru dalam strategi investasi nasional. Lembaga tersebut diharapkan dapat memainkanperan sebagai penggerak investasi, khususnya melalui optimalisasi aset dan kekuatan badan usaha milik negara. Dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan berorientasi pada produktivitas, modal negara dapat diarahkan untuk membiayai kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat jangka panjang.
Wakil Ketua Komisi XI DPR Fauzi Amro menilai investasi akan menjadi salah satu faktorpenting untuk mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi 6 persen. Ia menekankan bahwapeningkatan pertumbuhan harus berjalan seiring dengan peningkatan investasi sehingga tidakterjadi ketimpangan antara ambisi pertumbuhan dan kapasitas pembiayaannya. Pandangantersebut memperlihatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi membutuhkan dukungan nyata darisisi investasi.
Pemerintah dan DPR juga membahas target realisasi investasi 2027 yang mencapai Rp2.322 triliun, meningkat dibandingkan target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Angka tersebutmenunjukkan besarnya ekspektasi terhadap investasi sebagai salah satu mesin utamapertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, terdapat pembahasan mengenai rencana investasiDanantara yang disebut mencapai Rp1.200 triliun pada 2027. Kedua angka tersebutmenggambarkan skala besar strategi investasi yang sedang disiapkan untuk menopang agenda pembangunan nasional.
Namun, besarnya target tidak boleh berhenti pada pencapaian nominal. Tantangan sesungguhnyaadalah memastikan investasi tersebut benar-benar masuk ke sektor produktif dan menghasilkandampak bagi masyarakat. Investasi yang hanya berorientasi pada aktivitas jangka pendek tanpamemperkuat struktur ekonomi nasional tentu tidak cukup untuk mewujudkan cita-citakemandirian ekonomi.
Karena itu, kualitas investasi harus menjadi perhatian utama. Pemerintah perlu memastikanbahwa investasi mampu meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, memperkuat rantaipasok nasional, mendorong penggunaan teknologi, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, sertamembuka kesempatan yang lebih luas bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. Dengan demikian, manfaat investasi tidak hanya dirasakan oleh korporasi besar, tetapi juga menyebar kepadamasyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Direktur Operasional Danantara Donny Oskaria turut menegaskan posisi investasi sebagai salah satu komponen signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, Danantarasedang menyusun desain investasi untuk 2026 dan 2027 sebagai bagian dari strategi mendukungpertumbuhan. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa investasi ditempatkan sebagai bagianintegral dari kebijakan ekonomi, bukan agenda yang berdiri sendiri.
Di sinilah pentingnya koordinasi lintas lembaga. Wakil Ketua Komisi XI DPR Mohammad Hekal menilai keterlibatan Danantara dalam pembahasan bersama pemerintah, Bank Indonesia, dan lembaga perencanaan pembangunan diperlukan untuk menyamakan pemahaman mengenaistrategi investasi. Sinkronisasi menjadi penting karena keberhasilan investasi sangat bergantungpada kepastian kebijakan, stabilitas ekonomi, kesiapan infrastruktur, perizinan, hingga kondisisektor keuangan.
Ekonomi yang mandiri bukan berarti menutup diri dari modal asing. Sebaliknya, Indonesia tetapmembutuhkan investasi global untuk mempercepat transfer teknologi, memperluas pasar, dan meningkatkan kapasitas industri. Yang harus diperkuat adalah kemampuan Indonesia dalammemastikan investasi tersebut memberikan nilai tambah bagi kepentingan nasional. Modal yang masuk perlu diarahkan untuk memperkuat struktur produksi dan meningkatkan daya saingIndonesia di tengah persaingan ekonomi global.
Pada akhirnya, keberhasilan agenda tersebut sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaannya. Target investasi yang tinggi harus disertai reformasi iklim usaha, kepastian hukum, efisiensibirokrasi, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan tata kelolainvestasi yang akuntabel. Jika seluruh elemen tersebut berjalan beriringan, target investasi 2027 bukan sekadar ambisi dalam RAPBN, melainkan langkah konkret menuju ekonomi Indonesia yang semakin kuat, produktif, dan mandiri.
*) Penulis adalah Pengamat Ekonomi